Aku: Oh iya jatuh tempo ya, Bu. Udah aku siapin kok aplikasinya, tinggal tanda tangan ibu aja.
Nasabah: Oh sok atuh sekarang aja ke rumah. Saya di rumah kok.
Aku: Siaaaaap Bu. Meluncur kesana yah sekarang.
Di depan rumahnya. TING TONG. Nggak ada yang keluar. Ngintipin jendela, nggak keliatan tanda-tanda gerak kehidupan (cuma keliatan toples isi kue nastar. Asiiik pasti disuguhin itu!)
TING TONG!! Kali ini mencet bel lebih teken, biar khusyuk.Tetap nggak ada yang keluar. Kutelpon lah beliau.
Aku: Bu, di rumah?
Nasabah: Iya. Kamu udah dimana?
Aku: Di depan rumah, Bu.
Nasabah: Oh kenapa atuh nggak nge-bel?
Aku: Oooh aku pikir harusnya lempar bom molotov ke dalam, Bu! (oke, bagian ini cuma dalam hati aja)
Nasabah: Sebentar atuh yah. Ibu bukain dulu (pintunya)
Aku: Oke.
Dua menit kemudian. Krik... kriikk..
Aku telpon lagi. Jangan-jangan si nasabah mendadak Alzheimer.
Aku: bbb.... (belum sempet mangap)
Nasabah: Dimana, Neng??
Aku: Di depan rumah, Buuu. Ibu dimana?
Nasabah: Ini udah di depan. Neng mah lewat pintu belakang kali ya?
Aku: Enak aja nuduh gue maling cabe (hmm.. oke ini juga cuma dalam hati aku aja)
Nasabah: Neng di mobil?
Aku: INI BUUU DEPAN PINTU. PERSIS DEPAN PINTU. DI ATAS KESET, BU.
sunyi. senyap. sama-sama mencurigai satu sama lain.
Nasabah: Oh hehehe.. Neng di Tasik ya? Ini Ibu mah lagi di rumah Jakarta.